Menyeimbangkan produksi, konservasi hutan, mata pencaharian yang berkelanjutan, serta praktik sosial dan ketenagakerjaan yang baik dalam skala besar.
Aceh adalah rumah bagi Ekosistem Leuser yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati, yang sering disebut sebagai "Tempat Terakhir di Bumi". Lanskap ini merupakan tempat terakhir di Bumi di mana orangutan, harimau, gajah, dan badak dapat hidup berdampingan. Ekosistem Leuser juga merupakan rumah bagi beberapa hutan tropis alam terakhir di dunia dan area luas lahan gambut yang berfungsi sebagai penyimpan karbon yang penting.
Terdapat beberapa tantangan di lanskap Aceh yang perlu dihadapi melalui aksi kolektif. Earthworm berupaya memanfaatkan hubungan yang sudah ada dengan perusahaan multinasional yang mengolah bahan mentah dari daerah-daerah ini. Perusahaan-perusahaan ini dapat secara efektif mendorong pemasok untuk mengubah penggunaan lahan mereka dan mendukung komunitas pedesaan dalam menemukan sumber pendapatan alternatif.
Lanskap Aceh termasuk dalam daftar Consumer Goods Forum – Forest Positive Coalition dan berkontribusi pada Strategi Lanskap. Lanskap ini juga ditampilkan di SourceUp, sebuah platform daring yang menghubungkan pembeli dan pemangku kepentingan dalam rantai pasok komoditas pertanian dengan inisiatif lanskap dan yurisdiksi di area produksi.
Program ini dipantau dan dievaluasi secara sistematis setiap kuartal dan tahunan, menggunakan Global Impact Framework Tool (GIFT) yang disusun oleh Earthworm.
3 Rencana Aksi Kolektif telah diimplementasikan melalui proses keberlanjutan di tingkat kabupaten, yaitu di Subulussalam, Aceh Singkil, dan Aceh Selatan. Pertimbangan prinsip NDPE semakin diintegrasikan dalam perencanaan dan instrumen regulasi daerah. Forum multipihak telah berfungsi sebagai platform koordinasi operasional di ketiga kabupaten.
110.602,71 hektare area telah diidentifikasi untuk perlindungan melalui Perencanaan Penggunaan Lahan Partisipatif (Participatory Land Use Planning /PLUP) di 39 desa di Subulussalam, Aceh Singkil, Aceh Selatan, dan Aceh Tenggara. 87.668,22 hektare kini telah dilindungi secara formal melalui 33 peraturan desa (PERDES). 10.180 hektare area di dalam konsesi dilindungi oleh 8 perusahaan. Upaya restorasi terus berkembang melalui kegiatan agroforestri di 45 desa, dengan lebih dari 109.800 bibit telah ditanam di seluruh lanskap.
2.397 petani telah mendapatkan pelatihan Praktik Pertanian yang Baik (Good Agricultural Practices/GAP) di lanskap Aceh, serta 3 dari 3 Unit Usaha Petani (Farmers’ Business Units/FBU) telah diperkuat untuk mendukung pengembangan mata pencaharian alternatif. Berdasarkan survei tahun 2025 yang mencakup 15% dari total penerima manfaat, sebanyak 74% petani yang terlibat telah mengadopsi GAP dan 67% mulai menerapkan diversifikasi mata pencaharian.
Melalui pemetaan partisipatif dan penguatan tenurial, 8 komunitas telah diperkuat status tenurial mereka, sementara 40 desa lainnya masih dalam proses. Upaya ini diperkirakan berdampak bagi sekitar 30.000 orang, mencakup lebih dari 6.200 hektare, serta melibatkan 45 pemangku kepentingan. Secara paralel, 5 kasus konflik telah dikelola melalui proses penyelesaian konflik.
2.315 pekerja telah merasakan manfaat langsung dari peningkatan kondisi kerja, termasuk akses terhadap alat pelindung diri, pemeriksaan kesehatan, jaminan kesehatan, serta penguatan kebijakan ketenagakerjaan. Perbaikan ini memberikan dampak tidak langsung bagi sekitar 5.000 orang. Sebanyak 9 perusahaan telah dilibatkan dalam upaya peningkatan praktik ketenagakerjaan dan kondisi kerja di sepanjang rantai pasok.
Masyarakat Sipil
Melibatkan aktor lokal, menyediakan pembangunan kapasitas dan pelatihan, serta memfasilitasi kolaborasi multipuhak.
Pemerintah
Menyediakan sumber daya manusia dan kerangka operasional untuk mendukung perlindungan hutan dan kawasan lindung.
Sektor Swasta
Melaksanakan komitmen NDPE dalam rantai pasok dan berpartisipasi dalam kegiatan transformasi di tingkat lanskap.
Kontributor
Donor
Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO)
Mitra Lapangan
Ketua Lanskap
Manajer Lanskap Aceh
Manajer Hutan dan Karbon
Koordinator Sosial dan Pelibatan Pihak
Koordinator Hutan
Koordinator Mata Pencaharian
Selain tim yang berada di lapangan, spesialis teknis di Indonesia juga berperan penting dalam mendukung dan mengembangkan inisiatif lanskap.

Aceh merupakan salah satu ekosistem utama di mana Earthworm Foundation bekerja dengan pendekatan lanskapnya.
Klik ikon untuk mempelajari lebih lanjut tentang kerja Earthworm pada sektor komoditas ini