Model yang menunjukkan keseimbangan produksi komoditas dengan pelestarian hutan, mata pencaharian yang berkelanjutan, dan kesejahteraan masyarakat secara skala besar.
Riau adalah provinsi yang sangat penting untuk produksi komoditas pertanian: sekitar 2,5 juta ha kelapa sawit dan 2 juta ha pulp & kertas. Indonesia adalah produsen terbesar minyak kelapa sawit di dunia, dan perkebunan kelapa sawit milik petani kecil melibatkan lebih dari 2,3 juta petani. Riau adalah provinsi penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia, namun lebih dari 60% tenaga kerja pertanian bersifat informal. Lebih dari 1,6 juta petani kecil menghadapi tantangan terkait dengan produktivitas rendah, bibit yang buruk, ketidakpastian pendapatan, dan ketahanan pangan.
Kawasan lindung – seperti cagar alam dan taman nasional – tetap terancam oleh eksploitasi yang terus berlangsung dari industri kelapa sawit dan kertas, serta petani kecil dan masyarakat yang berusaha mencari nafkah. Meskipun ada beberapa komitmen dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah, yang didukung oleh pemerintah pusat, namun kompleksitas di wilayah ini memerlukan kontribusi dan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk apa yang dilakukan oleh Earthworm Foundation di lanskap ini.
Lanskap Riau termasuk dalam daftar Consumer Goods Forum – Forest Positive Coalition dan berkontribusi pada Strategi Lanskap. Lanskap ini juga ditampilkan di SourceUp, sebuah platform daring yang menghubungkan pembeli dan pemangku kepentingan dalam rantai pasok komoditas pertanian dengan inisiatif lanskap dan yurisdiksi di area produksi.
Program ini dipantau dan dievaluasi secara sistematis setiap kuartal dan tahunan, menggunakan Global Impact Framework Tool (GIFT) yang disusun oleh Earthworm.
2 Rencana Aksi Kolaboratif yang melibatkan 42 pemangku kepentingan telah disusun di tingkat kabupaten, di mana pertimbangan NDPE secara resmi terintegrasi ke dalam rencana pembangunan dan regulasi di kabupaten.
304.077 hektar di 29 desa dilindungi secara hukum berdasarkan Peraturan Desa. Lima puluh desa telah difasilitasi dalam Perencanaan Penggunaan Lahan Partisipatif (PLUP). Selain itu, 3.000 hektar di dalam konsesi dilindungi melalui rencana pengelolaan. Sebanyak 194.173 bibit telah ditanam di 624,66 hektar, dan 32 Organisasi Berbasis Masyarakat (CBO) dari 30 desa telah melaksanakan inisiatif perlindungan hutan. Lebih dari 60 pemangku kepentingan terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan hutan.
3.769 petani terlatih dalam Praktik Pertanian yang Baik (GAP) untuk kelapa sawit. Sebanyak 1.509 rumah tangga mendiversifikasi mata pencaharian. Sejumlah 1.760 petani menerima dana penanaman kembali. Tiga Unit Bisnis Petani didirikan untuk mata pencaharian berkelanjutan.
Dua desa, yaitu Harapan Jaya dan Bagan Limau, telah difasilitasi untuk pemetaan partisipatif dan studi hak atas tanah (PM-LTS). Desa Bagan Limau dan Bencah Umbai telah membentuk sistem resolusi konflik. Sebanyak 232 individu dilengkapi dengan keterampilan penyelesaian konflik melalui delapan sesi pelatihan.
2.191 pekerja di 8 perusahaan mendapatkan manfaat dari perbaikan kondisi kerja.
Masyarakat Sipil
Melibatkan aktor lokal, menyediakan pembangunan kapasitas dan pelatihan, serta memfasilitasi kolaborasi multipuhak.
Pemerintah
Menyediakan sumber daya manusia dan kerangka operasional untuk mendukung perlindungan hutan dan kawasan lindung.
Sektor Swasta
Melaksanakan komitmen NDPE dalam rantai pasok dan berpartisipasi dalam kegiatan transformasi di tingkat lanskap.
Kontributor
Donor:
Mitra Lapangan
Ketua Lanskap
Interim Manajer Lanskap Riau
Manajer Sosial dan Pelibatan Pihak
Manajer Mata Pencaharian
Koordinator Hutan dan Karbon
Manajer Hutan dan Karbon
Koordinator Mata Pencaharian
Selain tim yang berada di lapangan, spesialis teknis di Indonesia juga berperan penting dalam mendukung dan mengembangkan inisiatif lanskap.
Riau merupakan salah satu ekosistem utama di mana Earthworm Foundation bekerja dengan pendekatan lanskapnya.
Klik ikon untuk mempelajari lebih lanjut tentang kerja Earthworm pada sektor komoditas ini